DIVIDE ET IMPERA SEBAGAI KONSEP DALAM USAHA MELEMAHKAN PERJUANGAN GENERASI MUDA MASA KINI
Oleh : Subhan
Yusuf
Prelude
“Snouck[1]
mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu
berdasarkan politik Divide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia
berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik.”[2]
Sekilas, moment diatas disadari
atau tidak oleh kita yang hidup lebih dari 1 abad sejak Perang Aceh yang
berakhir tahun 1905 dan Perang Ngali (1908-1909), kebutuhan untuk memecah-belah
persatuan di kalangan pribumi (baca:kita) oleh golongan yang ingin berkuasa
atas dasar nafsu untuk memonopoli dan mendominasi sumber-sumber daya, baik alam
maupun manusia-nya tetap mengemuka dalam bermacam wajah dan kemasan. Mahasiswa
dan pemuda sebagai bagian yang terintegral dalam satu garis generasi harus
mampu memahami keadaan dan kekinian jamannya, untuk tetap mampu berfungsi
sebagai penerus peradaban, dalam bingkai moral.
I. Cerminan
Sejarah
Sebagai negara besar, negara-bangsa (nation-state) yang pilar dan
pondasinya adalah suku-suku dan bangsa-bangsa yang hidup dan berkembang menurut
tata cara-nya masing-masing, Indonesia, sejak pernyataan eksternalnya yang kita
kenal dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, belum sampai pada separuh jalan menuju
final destination-nya, belum sampai pada separuh jalan menuju pelabuhan
akhirnya, menuju tujuan akhirnya, seperti yang tersurat dan tersirat dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Sejak momentum fenomenal 65 tahun yang lalu tersebut, pernyataan eksternal tersebut memunculkan
pertanyaan-pertanyaan seperti sudahkah mampu berimplikasi secara
sistematis-progresif secara internal, Proklamasi sebagai pernyataan kepada dunia
luar bahwa kita sudah(ingin/sanggup) merdeka, sudahkah mampu berimplikasi
secara sistematis-progresif secara internal, yang bermuara kepada poin-poin
yang menjadi rekomendasi Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 (yang merupakan
sebuah platform pembentukan nation character)bagi rakyatnya, bagi
masyarakatnya? Inilah arah perjuangan kita bersama, yang seharusnya… yang
semestinya…. the one and only achievement to reach.
II. Dua Pilar
Jaman
Mahasiswa sebagai generasi dengan dinamika ilmiah (formal) dan pemuda
sebagai generasi dengan dinamika alamiah (informal) dalam perjalanan sejarah kita
telah bahu membahu, berjuang tanpa pamrih individual dalam mewujudkan
kondisi dan keadaan yang lebih baik. Jika kita buka lembaran catatan sejarah,
di seluruh pelosok tanah air, generasi muda menjadi pilar utama dalam tiap-tiap
determinasi perjuangan yang dilandasi oleh adanya keinginan untuk mencapai
kondisi yang lebih baik.
Korelasinya dengan masa sekarang ini adalah, apakah kalangan intelektual
kritis yang diwakili oleh pergerakan moral mahasiswa dalam menjernihkan kembali
platform perjuangan sesuai amanat yang terrekomendasi dalam pembukaan
undang-undang dasar 1945 mampu tetap berlaku dan berkarakter sesuai dengan visi
perjuangannya?
Tentu saja tulisan ini hadir dengan wacana yang tidak ingin bersifat
menggugat apalagi menohok kekinian eksistensi perjuangan yang telah dilakukan
oleh kalangan mahasiswa. Tidak pula bersifat mem-provoke militansi mahasiswa
menuju sesuatu tujuan yang berujung pada pola-pola destruktif-anarkis. Yang menjadi
tujuan setiap asimilasi pemikiran, tukar menukar cara pandang yang berdasar
pada kemauan untuk bersikap ilmiah-objektif tidak lain dan tidak bukan adalah
terciptanya sebuah kesadaran kolektif terhadap kondisi dan keadaan jaman.
Dalam sebuah kepentingan, kelompok-kelompok yang seharusnya mengorganisir
diri mereka masing-masing sebagai tujuan
dan sebagai bentuk implementasi manajerial, sebagai sebuah bukti adanya
keinginan untuk bersatu demi tujuan yang satu, cenderung tidak melihat wajah
konsep devide et impera yang disusupkan oleh kelompok-kelompok yang
tidak ingin terbentuknya sebuah persatuan. Biasanya dalam mengaktualisasikan
propagandanya kelompok ini mengangkat semua jenis isu, tidak ada yang haram
bagi mereka, karena tujuan utamanya adalah memperlemah, memperlambat,
mengaborsi dan bahkan mematikan proses persatuan yang muncul dari semangat
murni, semangat yang terpantik dari tergugahnya rasa kemanusiaan dan rasa
ketuhanan.
Generasi muda dalam memformat gerakan, sebagai salah satu cara untuk
menunjukkan keinginan berjuang, sebagai keinginan untuk ikut ambil bagian dalam
kampanye kebaikan dan perbaikan, wajib untuk berafiliasi dengan elemen-elemen
perjuangan lain yang mempunyai pandangan dan tujuan perjuangan yang sama, jika
kondisi seperti ini dapat diwujudkan, konsep adu domba dan teori pecah-belah
tidak akan mampu menunjukkan efektifitasnya.
III. Kondisi
Ideal tidak berhulu dan bermuara pada satu Idealisme
Dengan kesadaran untuk memahami ke-bhinennaka-an negara kesatuan kita, keanekaragaman
yang tentunya memuat segala sistem budaya dan sistem hukum sebagai payung
kehidupan dan penghidupan masyarakat dalam tiap-tiap rumpun-rumpun, yang paling
kecil sekalipun, sesuai dengan semangat kesadaran ke-bhinnekaan, sesuai dengan
pengakuan keberagaman, adalah sebuah tugas besar bagi generasi untuk melakukan
proses meng-Indonesia-kan Nusantara sesuai dengan amanat Proklamasi.
Kalau sampai hari ini masih terus berbicara ideologi, masih ingin
mengentalkan ego-ego idea, apatah itu bukan sebuah a trial an error, mengingat
kondisi awal kita adalah keberagaman. Apakah Ika (dalam bhinneka tunggal ika),
sebagai sebuah visi bersama diidentikkan dengan meleburnya segenap keberagaman
dalam sebuah konsep idea? Sebuah way of life? Sebuah point of view? Saya kira
tidak.
Kalau boleh saya merasa berbangga, justru keberagaman itulah yang menjadi
Rahasia Keramat Nusantara sehingga bermacam-macam konsep kolonialisasi yang
coba dirampungkan oleh berbagai jenis manusia penjajah yang datang, terpesona
kemudian secara rakus ingin mengusai, untuk terpaksa mundur, terpaksa mengakui
bahwa manusia di seluruh pelosok nusantara kita tidaklah sama, mereka memiliki
khazanah hidup yang berbeda-beda. Saya kira penjajah manapun tidak akan mampu
membuat begitu banyak formula untuk meracuni keberagaman negeri kita… (tapi itu
adalah yang terjadi di masa lampau).
Pertanyaannya kemudian, apakah kita cukup bangga akan hal tersebut, atau
apakah kita hanya cukup dengan kebanggaan-kebanggaan masa lalu itu? Sementara
aktualitas jaman yang terus bergeser menjauh dari jati diri bangsa telah
sedemikian rupa terlupa oleh kita sebagai generasi.. ataukah memang roda jaman
memang berputar.. berputar mengikuti lingkaran ‘setan’.
Sebagai generasi penerus bangsa kita tidak ingin dipredikatkan sebagai
generasi bangsat yang rakus memamah dan menikmati darah keringat sesama anak
bangsa, dalam hal ini muncul pertanyaan… apakah ada cara lain untuk survive
selain mengikuti racun Darwinisme yang memaksa kita untuk menindas yang
tertindas dan mengangungkan yang agung.. the race of human race kata
teori-nya,… perlombaan manusia menuju superioritas dan extacy semu temporal
yang terindikasi dari betapa gejala materialisme, individualisme,
primordialisme, dan hedonisme mampu merubah orientasi generasi, meninggalkan
rasa kemanusiaan dan sikap ketuhanan sebagai pengakuan inti kepada eksistensi
manusia sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk transedensial.
[2] Peranan
Orientalis Barat dalam upaya penaklukan Nusantara, Snouck H dalam Perang Aceh.
Sumber Ensiklopedia Wikipedia Indonesia
Komentar