PERANG NGALI 1908-1909, Sebuah titik refleksi moralitas bagi generasi muda Mbojo-Bima
PERANG NGALI 1908-1909, Sebuah titik refleksi moralitas bagi generasi muda Mbojo-Bima. Satu abad yang lalu, di wilayah lokal Bima, di region Kae, tepatnya di Ngali (Desa Ngali, Kec. Belo Sekarang) terjadi sebuah eskalasi perasaan kecewa terhadap lemahnya kontrol otoritas kekuasaan lokal (Kesultanan Bima-Sultan Ibrahim) terhadap merajalelanya konsep kolonialisme V.O.C Belanda. Awalnya, Masalah ini hanyalah menyangkut kewajiban membayar pajak, yang mana tetap diusahakan untuk dipenuhi oleh seluruh masyarakat Bima pada waktu itu. Pasca 1905, perlawanan rakyat Aceh dapat dilumpuhkan oleh Belanda, tetapi Perang Aceh telah menguras kekayaan Belanda, sehingga untuk meneruskan konsep kolonialismenya di wilayah Tengah dan Timur Nusantara (Makassar-Sumbawa) dan sekitarnya, biro dagang belanda ini lambat laun mempengaruhi kekuasaan lokal untuk lebih mengintenskan penarikan pajak, baik dari segi kuantitas maupun kualitas perolehan pajak. Masyarakat Ngali (wilayah Kae umumnya) menangkap gelagat ini...